Budaya Komunikasi Enghhi Bhunten


Oleh : Dwi Rama SM



Salah satu etnis yang memiliki kearifan lokal berupa budaya dan hasil laut dan garam melimpah. Pulau Madura yang terletak di timur laut Jawa, salah satu budaya paling unik yang dimiliki etnis Madura adalah bahasa. Bahasa madura memiliki karakter khusus dalam pengucapan dan penulisan. Pelafalan logat bahasa yang khas, keras dan lantang membuat orang Madura dapat dikenal oleh masyarakat luar cukup dari cara atau logat berkomunikasinya.

Komunikasi masyarakat Madura pada umumnya membahas tentang budaya dan cara penyampaian atau cara berkomunikasi  dari masyarakat Madura itu sendiri, khususnya desa Banuaju Barat kec. Batang-Batang kab. Sumenep. Pulau Madura yang terdiri dari 4 kabupaten memiliki cara berkomunikasi yang berbeda tetapi hampir sama. Maksud dari cara komunikasinya adalah tingkatan bahasa yang diucapkan dalam sehari hari, kalimat tersebut ditujukan ke siapa dan kapan. Misal, bahasa enje’ iyeh , digunakan berkomunikasi dengan orang yang lebih muda dari kita (komunikator) . bahasa engghi enten, digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sejajar dengan kita, seperti teman, saudara seumuran. Tingkatan bahasa tertinggi / halus adalah engghi bhinten, bahasa tersebut digunakan untuk yang lebih tua dari (komunikator) atau orang yang kita hormati. Tingkatan bahasa tersebut berlaku untuk 3 kabupaten (bangkalan, sampang, dan pamekasan) karena ke tiga kabupaten tersebut tidak terlalu memegang teguh budaya komunikasi yang halus (engghi bhinten) . Dalam 3 kabupaten tersebut bahasa engghi bhintenhanya digunakan pada saat tertentu dan melihat dengan siapa kita berbicara. Sedangkan untuk kabupaten Sumenep, dalam komunikasi sehari hari selalu menggunakan bahasa engghi bhinten atau engghi enten, yang melatar belakangi Budaya tersebut masih telaksana samapi sekarang adalah karena sumenep masih kental dengan budaya islam dan kerajaan/keraton.Bahasa engghi punten digunakan untuk menghormati orangyang lebih tua dari kita, hal ini juga berlaku di 3  kabupaten lain di Madura jika sedang berkomunikasi dengan orang yang kita anggap lebih tua atau dihormati.

Seiring berkembangnya jaman dan teknologi komunikasi masyarakat Madura  khususnya Sumenep tidak mengalami pergeseran budaya komunikasi engghi bhinten, dilihat dari fakta lapangan di desa Banuaju Barat masyarakat dan anak anak masih mempertahankan budaya komunikasi tersebut. Pelaku budaya/orangtua selalu mengajarkan kepada anak anaknya untuk membiasakan berkomunikasi menggunakan budaya komunikasi yang sampai sekarang masih terpelihara dengan baik. Dengan mempertahankan budaya komunikasi engghi bhunten tidak menutut kemungkinan warga desa Banuaju Barat untuk mengikuti perkembangan bahasa dan teknologi yang berkembang saat ini. Warga desa banuaju barat yang notabene masih mempertahankan kearifan budaya dapat dengan baik memanfaatkan perkembanganteknologi seperti penggunaan smartphone dan alat komunikasi modern yang lain. Adanya penggunaan teknologi masih belum dapat diterima oleh seluruh warga Banuaju Barat dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan ekonomi untuk mencapai fasilitas tersebut.

Rata rata pelaku perkembangan teknologi di desa Banuaju baratadalah masyarakat yang memiliki kebutuhan pribadi didalamnya, misalnya penggunaan handphone atau smartphone oleh remaja dewasa, orang tua, atau beberapa pekerjaan lain yang membutuhkan alat komunikasi didalamnya. Hal tersebut membuktikan bahwa budaya komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat desa Banuaju Barat dengan adanya perkembangan teknologi tidak dapat menggeser budaya komunikasi enghhi bhunten yang selama ini masih terpelihara dengan baik.

Komentar