Teknologi Tepat Guna

        Teknologi tepat guna adalah sebuah teknologi yang ditemukan atau diciptakan dengan tujuan untuk semakin meningkatkan atau membuat pekerjaan manusia semakin lancar. Hal ini kemudian dapat meningkatkan nilai ekonomi juga.  Namun, untuk membuat atau menciptakan teknologi baru, tidak dapat dibuat dengan konsep seadanya saja. Sebuah teknologi dapat menjadi teknologi tepat guna apabila memenuhi syarat-syaratnya, yaitu 1) sesuai dengan kebutuhan masyarakat, 2) dapat menjawab permasalahan masyarakat, 3) Tidak merusak lingkungan, 4) Dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara mudah, dan 5) menghasilkan nilai tambah dari aset ekonomi dan lingkungan hidup.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa di Desa Banuaju Barat, mayoritas masyarakat adalah petani siwalan dan salah satunya adalah pengrajin daun siwalan. Pengrajin tersebut biasanya melakukan kegiatan produksi masih menggunakan alat sederhana, seperti pisau. Pisau dimanfaatkan untuk memisahkan lidi dari daun siwalan dan untuk memotong daun menjadi bagian yang lebih kecil. Penggunaan pisau tidak dapat memaksimalkan pemotongan, artinya hanya dua helai daun saja yang dapat dipotong menjadi satu. Selain itu, penggunaan pisau yang tajam dapat melukai tangan apabila tidak berhati-hati.
Berdasarkan masalah tersebut, maka perlu adanya sebuah teknologi yang dapat membantu proses pemotongan daun. Oleh sebab itu, tim KKN 23 UTM memutuskan untuk membuat sebuah alat pemotong daun dari kayu.

Alat tersebut diberi nama PEDAS (Pemecah Daun Siwalan). Pada alat ini ada celah atau lubang yang fungsinya sebagai tempat silet atau pisau dan tempat untuk mengukur lebar daun yang diinginkan. Cara kerja alat ini sangat mudah dan sederhana. Daun hanya dimasukkan ke ukuran  lubang yang diinginkan kemudian daun ditarik. Alat ini sangat bermanfaat dalam proses pemotongan, karena dengan ini, pemotongan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan dapat memotog dalam jumlah yang banyak. Selain itu, alat ini dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan pada tangan saat memotong daun. Hasil yang diperoleh pun akan lebih bagus dengan ukuran yang sama lebar. Pada kegiatan ini tidak ada hambatan yang dihadapi, karena teknologi atau alat yang digunakan dapat langsung digunakan.
Selain siwalan, di desa Banuaju Barat pun memiliki pohon kelapa yang banyak. Masyarakat di desa ini hanya memanfaatkan buah kelapanya saja yang kemudian dijual hingga ke luar kota Sumenep. Sedangkan serabut kelapa biasa dignakan untuk arang sebagai bahan bakar. Melihat bahwa serabut kelapa dapat digunakan dan dibuat sebuah produk yang memiliki nilai jual juga, maka dibuatlah sebuah teknologi atau alat.


Alat ini diberi nama PILUS (Pemisah dan Penghalus)  yaitu teknologi yang dapat memotong kulit kelapa menjadi bagian kecil, kemudian menghilangkan bagian kasar dari serabut kelapa, yang pada akhirnya akan dihasilkan serabut yang halus. PILUS terbuat dari kayu, paku, sikat kasar, dan sisir penghalus. Alat ini bermanfaat untuk menghasilkan serabut-serabut kelapa yang nantinya dapat dijadikan sebuah produk. Bagi pemula, alat ini akaan sedikit sulit digunakan karena belum mahir dalam penggunaannya. Namun, cara kerjanya sangat mudah dan sederhana.

Komentar