Tuhan, Dimana Warung Kopi? (Part 5)

Senin,
17-06-2016

“Saya akan membantu proses sosialisasi program smart center dan memantau berjalannya program tersebut. Saya mengucapkan terimakasih banyak atas program yang teman-teman KKN jalankan, sebab sangat membantu siswa dalam memperdalam ilmu yang diperoleh dari bangku sekolah”
“Saya juga mengucapkan terimakasih atas izin yang telah bapak berikan. Terutama atas kesempatan yang bapak beri untuk melaksanakan sosialisasi disekolah ini. Melihat antusias dari siswa yang sangat luar biasa, semoga program ini berjalan sesuai dengan rencana dan tercapai tujuannya. Sekali lagi saya mewakili anggota KKN 23 mengucapkan terimakasih banyak bapak”
Akhir percakapan yang terjadi antara Musikin dengan bapak kepala sekolah MI Banuajauh barat setelah melakukan sosialisasi program kerja smart center, bimbingan belajar kilat selama satu bulan yang dapat diikuti siswa SD/MI sederajat secara gratis. Program ini adalah program pertama dari divisi pendidikan yang berjalan setiap malam dan berkelanjutan kurang lebih selama 26 hari. Anggota divisi cukup percaya diri akan mendapatkan banyak anak didik dalam berlangsungnya program smart center. Target sosialisasi akan dilaksanakan diseluruh sekolah SD/MI yang tersebar di desa Banuajuh barat.
                        ******************************
Sedari pagi Bogel merayu Musikin agar bersedia berangkat bersamanya menyaksikan pertandingan bola Persela melawan  Arema Cronus. Bogel memang LA mania. Semenjak kecil ia tidak pernah melewatkan aksi Persela disetiap pertandingan. Musikin berjanji akan menemani Bogel setelah melaksanakan sosialisasi disemua sekolah yang tersebar didesa Banuajuh barat. Selepas maghrib, Musikin menepati janji kepada Bogel untuk mencari warung kopi yang bertelevisi guna menyaksikan pertandingan bola. Mereka meminta izin kepada ketua kelompok untuk mencari keperluan yang dititipkan divisi pertanian, yakni membeli cetakan gula siwalan dan keperluan anyaman. Kesempatan itu diam-diam mereka manfaatkan untuk melihat pertandingan bola yang sejak pagi sangat diinginkan oleh Bogel. Kanan kiri sekitar desa tak juga dijumpai warung kopi. Jika memang ada, paling-paling warung kopi yang tidak dengan televisinya. Sudah satu kilo perjalanan menggunakan sepeda motor, namun tak kunjung mereka menemukan warung kopi. Kini tidak lagi hitungan kilo, mereka telah berjalan setengah jam, padahal Musikin dan Bogel tidak paham sepenuhnya arah jalan yang telah dilewati. Namun keinginan yang begitu besar menyaksikan pertandingan bola membuat mereka mau untuk melakukan hal tersebut. Musikin yang merasa lelah, menggerutu kepada Bogel. Ia menyesal telah menuruti keinginannya. “Tuhan dimana warung kopi?” ucap Musikin dengan suara pelan. Hingga dipinggir jalan kedap-kedip lampu TV terlihat oleh pandangan mata didalam warung kopi, mereka tak menyiakan apa yang telah didapati. Kemudian masuk bertenggar dikursi warung. Rasa lega datang bersama tersajinya kopi dan dimulainya pertandingan bola. Ditengah berlangsungnya pertandingan, Bogel menantang Musikin untuk bertaruh bola. Deal terjadi diantara mereka, Bogel dengan Persela dan Musikin Arema Cronus. Pertandingan banyak diwarnai ketegangan. Berharap jago masing-masing tidak keok sebab taruhan yang mereka buat cukup berat dalam kesepakatan yang terjadi. Babak pertama belum ada goal yang tercetak. Bogel dan Musikin beradu argumen dan prediksi dibabak kedua. Hingga tak sadar mereka telah menghabiskan dua gelas kopi untuk masing-masing orang. Pesanan ditambah lagi untuk menemani dimulainya pertandingan. Ditengah keseruan yang berlangsung, tak disangka satu angka berhasil dicetak oleh Sunarto pemain arema dengan goal cantik yang disarangkan digawang Persela. Sunarto mengecoh dua pemain Persela yang berada didepan gawang kemudian melakukan penetrasi yang akurat hingga bola berhasil masuk. Musikin berjingkrak senang mendapati tim yang ia pegang mengungguli skor di pertengahan babak kedua. Bogel mulai resah dengan ketertinggalan timnya. Laga ini dilakukan dikandang persela, seharusnya tim lebih memiliki rasa percaya diri dalam bertanding. Bogel bersikeras mengungkapkan bahwa Persela akan mengejar ketertinggalan, bahkan ia yakin Persela bisa mengunguli skor diakhir pertandingan. Semakin seru pertandingan yang berlangsung setelah tercetaknya goal. Persela seolah ingin membalik keadaan atas apa yang telah diperbuat oleh tim lawan. Dimenit akhir, sungguh tak ada yang menyangka goal kembali tercetak oleh Cristian Gonzales digawang Persela. Membuat kedudukan menjadi 2-0. Aremania bersorak girang dengan tercetaknya angka kedua oleh tim yang mereka banggakan. Dan Bogel kembali kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Raut wajah pilu membayangkan apa yang menjadi taruhannya bersama Musikin. Hingga pertandingan berakhir dengan waktu tambahan 3 menit, kedudukan berakhir 2-0. Musikin tersenyum bahagia atas kemenangannya. Sedang Bogel tak banyak bicara sekembali mereka ke posko KKN akibat kekalahannya. Sesampai diposko, Musikin menagih apa yang telah menjadi taruhannya bersama Bogel. Pertama-tama Bogel harus sungkem dan meminta maaf kepada seluruh anggota KKN 23 karena tim yang ia banggakan telah kalah dalam pertandingan. Anggota yang tidak tau akan maksud perbuatan Bogel hanya bengong seperti orang bodoh. Namun tawa Musikin terbahak menyaksikan tingkah gila rekannya karna kalah dalam bertaruh. Setelah lengkap sungkem kesemua anggota, Bogel harus mlanjutkan hukuman kekalahannya dengan memakai helm ketika tidur malam. Penderitaan Bogel adalah kebahagian teman-teman yang lain. Mereka terhibur dengan taruhan yang telah dibuat oleh Musikin dengan Bogel. Akibatnya, foto-foto bogel saat tidur menggunakan helm banyak terjepret dan tercetak oleh teman-teman yang iseng mengabadikannya sebagai kenang-kenangan penderitaan kawan.

By: Gudel

Komentar