Para Penyambung Hidup (Part 8)

Kamis,
21-06-2016

            Musikin sedari pagi sibuk mengemas brosur yang sudah dibuat oleh rekan-rekannya dari divisi pendidikan. Sebagian lainnya mempersiapkan proposal yang dijadikan persyaratan administrasi untuk menjalankan program yang bertema “Bangku Semu”. Bangku semua adalah singkatan dari sumbang buku seribu ilmu. Kegiatan amal dengan mendonasikan buku layak bacauntuk mendirikan mini library didesa Banuajuh barat. Hal ini mendukung berjalannya program smart center yang sudah dijalankan. Kendala bagi peserta didik smart center adalah kurangnya reverensi buku bacaan yang dimiliki. Dengan didirikannya perpustakaan mini, semoga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang datang untuk menambah wawasan melalui membaca. Para anggota berangkat bersama untuk melakukan koordinasi di SMA Gapura.
            Anggota yang mendapatkan piket diposko, menyibukkan diri dengan membuat tikar yang akan dijadikan contoh saat bersosialisasi dikelompok tani daerah setempat. Kali ini mereka menginovasikan hasil kerajinan dengan memberikan warna pada daun yang akan dianyam. Daun siwalan diberikan berbagai jenis warna, kemudian disulap menjadi tas dengan bervariasi ukuran. Semakin variatif dan cantik, membuat siapa saja yang melihat pasti ingin memiliki hasil kerajinan yang telah dibuat. Banyak hal yang diperlukan dalam proses ini. Ulet, trampil, kreatif, sabar dan tentu saja waktu. Jadi mereka yang bisa membuat kerajinan anyam adalah mereka yang sangat luar biasa.
            Divisi pendidikan telah kembali dari pekerjaan. Mereka mengabarkan bahwa koordinasinya disambut baik oleh pihak sekolah. Bapak Rafi selaku waka kesiswaan di SMA Gapura sangat bangga dengan program yang telah dijalankan oleh anggota KKN 23. Program yang bertujuan untuk melatih siswa agar mau beramal. “Melalui donasi buku layak baca semoga bisa menjadikan para siswa terbiasa untuk beramal”Seperti itu harapan yang beliau sampaikan.     
            Selepas maghrib, ketua kelompok, Bogel dan Boncel berangkat mengikuti tahlilan didua rumah warga. Sedangkan teman yang lain berjaga diposko untuk melanjutkan kesibukan masing-masing. Risa bersama anggota divisi pertanian mengonsep lebel yang akan disematkan dalam produk gula siwalan yang sudah dimodivikasi bentuknya.Teman-teman yang sedang tidak bertugas sibuk mengisi log book sebagai tugas individu. Tak lama kemudian, ketua kelompok, Bogel dan Boncel telah kembali keposko dengan membawa banyak makanan. Makanan yang didapatkan dari tahlilan yang diikuti. Kami sudah makan bersama sebelumnya. Anggota perempuan masak dan menyajikannya untuk kami semua. Dan makanan yang didapatkan mau tidak mau harus tetap disantap hingga tak kuasa lagi perut kami untuk menampungnya.Selepas makan, kami semua bersantai untuk merenggangkan otot yang tegang akibat makanan yang bersarang penuh didalam perut. Anggota laki-laki menghisap rokok sambil bergurau ria membicarakan perjalanan lucu yang terjadi selama berjalannya KKN. Tak lama kemudian datang dua ibu-ibu menuju posko kami. Nampaknya mereka membawa sesuatu yang mungkin diperuntukkan kepada kami. Ternyata sangkaan itu benar. Mereka adalah keluarga dari penyelenggara tahlil yang sengaja membawa makanan lebih untuk diberikan kepada seluruh anggota KKN 23. Jumlah makanan yang dibawa pas 20 piring. Melihat piring-piring yang tersaji, perut serasa menolak dengan apa yang terpandang didepan mata. Namun celoteh Bogel seketika membuat kami mau melakukannya. “Ingat mereka yang tidak bisa makan. Jadi ini adalah rezeki yang kita dapat. Dengan ini kita bisa menyambung hidup selama 18 hari lagi” akhirnya kami memakannya.

By: Gudel

Komentar