Kearifan Lokal di Banuaju Barat



            Setiap daerah di Indonesia mempunyai ciri khas budayanya masing-masing, tidak terkecuali dengan budaya Madura, khususnya di kabupaten Sumenep. Kali ini kami menemukan budaya kearifan lokal yang cukup unik, budaya ini berkaitan dengan adat pesta pernikahan. Hari ini, Kamis (28/2016) di desa yang kami tempati untuk Kuliah Kerja Nyata sedang ada gawe besar. Yakni, acara pernikahan anak dari kepala desa Banuaju Barat.
          Sejak jauh-jauh hari pak klebun (sebutan untuk kepala desa di Madura) sudah disibukkan dengan persiapan acara pernikahan anaknya, bahkan sejak hari pertama kami menginjakkan kaki di desa Banuaju Barat, sulit untuk kami bisa berkomunikasi secara intens dengan pak klebun. Alhasil, kami berkeliling desa dengan tanpa mendapat arahan detail dari pak klebun. Sebenarnya, hal itu tidak masalah bagi kami. Akan tetapi ada kalanya kita membutuhkan stempel atau arahan dari beliau, dan menjadi terhambat karena beliau yang cukup sulit untuk ditemui.
          Tibalah hari dimana pesta pernikahan digelar, mulai dari malam Rabu (27/2016) sudah sangat sibuk keadaaan di rumah pak klebun, hingga keesokan harinya. Pagi-pagi buta para pengisi acara yang terdiri dari keluarga dan kerabat- kerabat pak klebun mulai mempersiapkan diri untuk dirias, termasuk dengan sang calon mempelai. Ada satu hal yang unik, yaitu adanya pasangan pengantin kecil, yang diambil dari kerabat pak klebun.
Pengantin kecil ini tentu bukan pengantin sungguhan, namun hanya sebagai tradisi khas dari kabupaten Sumenep dan masih dilestarikan hingga sekarang. Pengantin kecil ini terdiri dari 6 pasang laki-laki dan perempuan dengan usia sekitar 6-8 (enam sampai delapan) tahun. Mereka dirias lengkap seperti halnya pengantin, dengan hiasan penuh di kepala atas dan belakang. Pengantin kecil kemudian diarak dengan menaiki kuda. Kudanya sendiri juga dihias sedemikian rupa, sehingga cukup menarik minat warga untuk berbondong-bondong melihatnya. Pada awalnya kuda dan sang pengantin kecil hanya diarak dengan mengelilingi rumah pak klebun sebagai pemilik acara, namun kemudian mereka diarak kelilig desa, yang terdiri dari 5 (lima ) dusun.
Saat berada di atas kuda sebelum diarak, bagian depan tubuh pengantin kecil disangga dengan bantal. Mungkin hal ini bertujuan agar pengantin kecil yang akan diarak tidak merasa lelah. Dan yang membuat takjub adalah, dengan riasan yang cukup berat dan berada di atas kuda, tidak nampak diantara anak kecil yang menjadi pengantin rewel, menangis, atau tidak mau naik ke kudanya. mereka menurut dan diam begitu saja. Padahal jika itu kami pribadi sebagai orang dewasa, sudah banyak mengeluh. Apalagi sampai harus diarak berkeliling desa yang memakan waktu tidak sebentar
Para pengantin kecil ini mulai diarak sehabis dhuhur atau sekitar pukul 13.30 WIB. Antusiasme masyarakat desa Banuaju Barat dalam mengapresiasi arakan ini sungguh luar biasa. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak kecil, dan pemuda berkumpul untuk menyaksikan budaya kearifan lokal ini. Suasana benar-benar padat dan ramai ditambah dengan penjual makanan yang berjejer berderet-deret di sekitaran rumah pak klebun. Menambah suasana meriah pada acara pesta pernikahan.
Arakan pengantin desa tiba di dusun Jurang Ara Laok (dusun tempat tinggal posko KKN kami) sekitar pukul 18.00 WIB. Kami tidak bisa membayangkan seperti apa lelahnya mereka, para pengantin kecil, dengan pakaian dan riasan yang masih lengkap. Hingga terbesit rasa iba di hati kami pada pengantin kecil itu. Namun, kami tidak mampu berbuat apapun, karena sudah menjadi kearifan lokal setempat, yang oleh masyarakatnya telah dijaga dengan sangat baik ditengah era modern ini.

Kearifan lokal ini menjadi salah satu budaya yang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan agar tidak punah digerus oleh zaman yang semakin mengglobal. Sekaligus dapat dijadikan potensi pariwisata di kabupaten Sumenep. Catatan sedikit dari kami, bahwa tradisi yang menggunakan pasangan pengantin kecil dan diarak dengan kuda, hanya bisa dilakukan bagi mereka yang mampu. Jadi tidak ada paksaan untuk harus mengikutinya. 

Komentar