Duka, Nestapa (Part 7)

Rabu,
19-06-2016

            Pelaksanaan imtihan sangat dinantikan oleh masyarakat. Persiapan dilakukan sejak pagi untuk memasang lencak, penyebutan panggung yang disematkan oleh masyarakat Madura. Semula kami mengira bahwa panggung akan didatangkan dari penyewaan. Ternyata penataannya dibuat dari amben berjumlah delapan buah yang ditata sedemikian rupa. Sejauh usaha yang dilakukan, masyarakat sangat antusias bergotong royong demi menyongsong diadakannya imtihan madrasah. Mungkin tak sedikit dari mereka adalah para wali murid, masyarakat sekitar dan juga pengasuh madrasah. Dalam acara imtihan juga diadakan trablig akbar dengan KH. Said Darsuqi sebagai penceramah. Beliau adalah salah satu pengasuh pondok terkenal didaerah Sumenep. Semua berharap agar acara berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala.
 Kerja bakti untuk menyiapkan panggung terus berjalan. Saat segala sesuatu terabaikan karena kesibukan, tiba-tiba kabar duka terdengar jelas dari corong masjid. Pengumuman kematian disampaikan  sebanyak tiga kali. Seketika keadaan ditempat menjadi duka. Semua berbela sungkawa atas kematian salah seorang warga desa Banuajuh barat. Sebagian orang pamit untuk membantu merawat jenazah. Sedang lainnya memutuskan untuk melanjutkan persiapan panggung yang sedikit lagi akan rampung. Selesailah persiapan panggung, tinggal dekorasi dan alas duduk. Orang-orang yang tersisa segera bersiap untuk melayat kematian. Ketua kelompok KKN 23 mengintruksikan kepada anggota untuk berangkat mengikuti sholat jenazah dan pemakaman.
            Dimana bumi dipijak, disitulah langit kita jinjing. Kami belajar akan budaya dan kebiasaan ditempat singgah. Menyesuaikan diri bersama masyarakat yang guyub dalam gotong royong. Satu kepedihan maka kepedihan juga bagi semua. Setelah pemakaman dilakukan masih tersisa duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Innalillahiwainnailaihirajiun, sesungguhnya kita semua adalah milik allah dan kita akan berpulang kepadanya.
            Masyarakat menyiapkan dekorasi. Tepat pukul sebelas kami seolah kembali terpukul godam. Bukankah itu menyakitkan. Makna kembali berarti telah terulang. Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Corong masjid lagi-lagi memberitakan bahwa mailaikat pencabut nyawa baru saja datang lagi didesa kami. Kematian kedua dalam satu hari. Semuanya hening menunggu selesainya pengumuman yang dikumandangkan. Dekorasi yang akan disiapkan kembali ditunda. Kali ini hanya Bogel, Gecol dan Musikin yang berangkat melayat. Belasungkawa sedalam-dalamnya kami sampaikan mendampingi kepergiannya.
            Berakhirnya senja menjadi tanda bahwa segala sesuatu yang telah dipersiapkan akan segera dipertontonkan untuk khalayak ramai. Lencak, dekorasi dan penampilan yang dirangkum sebagai pertunjukan pentas seni. Masyarakat mulai berdatangan. Dewi membuka acara dengan percaya diri. Penampilan pertama adalah tari yang dikemas baik sebagai pembuka acara. Para penari cilik dengan busana yang anggun meliuk lincah menarikan lagu islami diatas lencak. Para penonton terhibur. Mereka memberikan tepuk tangan meriah selama penampilan hingga selesainya lagu dan keluarnya para penari. Selanjutnya berganti para model cilik berjumlah lima orang laki-laki dan lima orang perempuan. Mereka dipasangkan secara serasi kemudian berpose baik didepan kamera. Persis sesuai hasil latihan sehari sebelumnya. Meskipun persiapan sangat minim namun pertunjukkan berhasil menyita perhatian para penonton. Hingga penutupan pentas diakhiri dengan musikalisasi puisi bertemakan tentang guru. Puisi yang ditujukan untuk dedikasi seorang guru, para pembangun insan cendekia. Pendidik para penerus masa depan bangsa. Penonton terbawa sedih menyaksikan deklamasi tersebut. Seusainya, seluruh penampil pentas kembali menaiki panggung dan   menyanyikan lagu hymne madrasah bersama-sama. Inilah puncak dari kesedihan yang tertahan. Tidak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata mendengar lantunan dari jiwa-jiwa polos saat mengiramakan tiap baris liriknya. Alunan nada yang begitu menyayat hati. Bagi mereka yang pernah mengenyam bangku madrasah tentu saja memiliki perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata saat mendengarkan lagu ini dinyanyikan. Hening sejenak, tak disangka gemercik air turun dari langit, berjatuhan membasahi bumi. Penampilan pentas baru saja berakhir, namun nestapa menghantui dalam berlanjutnya acara. Bukankah kami berharap tentang kelancaran. Namun rintik hujan menaikkan tempo meninggalkan gerimis yang telah mengantarnya untuk turun. Kami tak lagi berfikir bagaimana kelanjutan acara, pertanda yang sedari pagi telah kami dapatkan. Maka tercatatlah duka dan nestapa.

By: Gudel

Komentar